(021) 82678146 yayasankhi@gmail.com
Rutinitas Doa Bersama & Santunan pekan Pemberian Uang Saku Sekolah untuk adik2 yatim YKHI, tgl 20/02/2020

Rutinitas Doa Bersama & Santunan pekan Pemberian Uang Saku Sekolah untuk adik2 yatim YKHI, tgl 20/02/2020

Alhamdulillah puji syukur dan terima kasih untuk seluruh donatur Yayasan Khomsatun Hasanah Indonesia, yang tiada bosan membantu dan menjadi perpanjangan tangan ALLAH SWT.

Sehingga acara rutin Doa Bersama dan Santunan pekanan pemberian Uang sekolah berjalan lancar dan khidmat….aamiin

Senantiasa ALLAH limpahkan rahmat atas kebaikannya, membalas setiap doa dan dukungannya dan menambah keberkahan rizkinya….

Aamiin yaa robbalalaamiin ๐Ÿคฒ๐Ÿป
Syukur dan terima kasih kami dan salam dari putra_putri Yatim Yayasan Khomsatun Hasanah Indonesia๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜Š๐Ÿฅฐ

Undangan silaturahmi ke rumah  keluarga Bapak Dodi di citra Grand

Undangan silaturahmi ke rumah keluarga Bapak Dodi di citra Grand

silaturahmi ke rumah keluarga Bapak Dodi di citra Grand
Ykhi.or.idย  berdasarkan hadis Menyakiti hati anak yatim

  1. dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

 

  1. bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.
  1. mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: โ€œApa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.โ€ dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya

โ€œDan mereka bertanya kepadamu mengenai anak-anak yatim. Katakanlah, โ€œMemperbaiki keadaan anak-anak yatim itu amat baik bagimu.โ€ (QS Al Baqoroh,2:220)

โ€œDan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang telah baligh) harta-harta mereka.โ€ (QS An Nisaa,4:2)

โ€œDan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim (bila kamu menikahi mereka), maka nikahilah dua, tiga atau empatโ€ฆโ€ (QS An Nisaa,4:31)

โ€œDan ujilah anak-anak yatim itu (sebelum baligh) sehingga mereka cukup umur (dewasa). Kemudian jika kamu melihat keadaan mereka (tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka telah berfikir matang dan mampu menjaga hartanya) maka serahkanlah kepada mereka hartanya. Janganlah kamu makan harta anak-anak yatim secara melampaui batas dan secara terburu-buru (merebut kesempatan) sebelum mereka dewasa.โ€ (QS An Nisa,6)

 

Lebaran Yatim Yayasan Khomsatun Hasanah Indonesia

Lebaran Yatim Yayasan Khomsatun Hasanah Indonesia

Idul Yatama (hari raya anak-anak yatim) yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram (Asyura) sebenarnya bukan hari raya sebagaimana hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Istilah Idul Yatama hanya sebagai ungkapan kegembiraan bagi anak-anak yatim. Karena pada tanggal tersebut, banyak orang yang memberikan perhatian dan santunan kepada mereka.Yayasan Khomsatun Hasanah menyelengarakan lebaran yatim sekaligus mengadakan santunan bertepatan dengan hari raya anak-anak yatim. Dalam hadits riwayat Abu Dawud ra.

dinyatakan bahwa Hari Raya umat Islam hanya ada dua, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri : ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูŽุฏูู…ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉูŽ ูˆูŽู„ูŽู‡ูู…ู’ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุงู†ู ูŠูŽู„ู’ุนูŽุจููˆู†ูŽ ูููŠู‡ูู…ูŽุงุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ู…ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุงู†ู ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุงู†ูุŸ ู‚ูŽุงู„ููˆุง: ูƒูู†ูŽู‘ุง ู†ูŽู„ู’ุนูŽุจู ูููŠู‡ูู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠูŽู‘ุฉูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ: โ€ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุจู’ุฏูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ุจูู‡ูู…ูŽุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ูู…ูŽุง: ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุถู’ุญูŽู‰ุŒ ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑู โ€œ Dari Anas, ia berkata : Rasulallah SAW datang ke Madinah dan mereka (orang Madinah) menjadikan dua hari raya dimana mereka bergembira. Lalu Rasulullah bertanya : โ€œApa maksud dua hari ini?โ€ Mereka menjawab: โ€œKami biasa bermain (bergembira) pada dua hari ini sejak zaman Jahiliyah.โ€ Rasulallah SAW bersabda: โ€œSesungguhnya Allah telah menggantikan untukmu dengan dua hari raya yang lebih baik dari padanya, yaitu hari raya Adha dan hari raya Fitri (HR : Abu Daud : 1134) Dari sini dapat dipahami, selain Idul Adha dan Idul Fitri bukanlah hari raya yang sebenarnya, melainkan semacam perayaan.

Dalam syair-syair Arab, banyak terdapat kata-kata โ€˜Ied, tetapi yang dimaksud bukan hari raya melainkan hari kegembiraan. Jadi, Istilah Idul Yatama tidak jauh berbeda dengan istilah Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, Hari Lingkungan Hidup, Hari Ibu, dan sejenisnya. Hanya semacam momen untuk mengingatkan masyarakat agar peduli kepada nasib anak-anak yatim. Momen itu tidak pula dimaksudkan bahwa santunan kepada anak yatim hanya berlangsung pada tanggal 10 Muharram. Menyantuni anak yatim bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Momentum Momentum 10 Muharram dijadikan sebagai Idul Yatama, berdasarkan anjuran untuk menyantuni anak-anak yatim pada hari tersebut. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat menyayangi anak-anak yatim. Dan beliau lebih menyayangi lagi pada hari Asyura (tanggal 10 Muharram). Dimana pada tanggal tersebut, Beliau menjamu dan bersedekah bukan hanya kepada anak yatim, tapi juga keluarganya. Dalam kitab Faidul Qadir disebutkan, menjamu anak yatim dan keluarganya pada tanggal 10 Muharram merupakan sunnah Nabi SAW.

dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh. Kemudian dalam kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiyaa-i wal Mursalin disebutkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: ู…ูŽู†ู’ ุตูŽุงู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุญูŽุฑู‘ูŽู…ู ุฃูŽุนู’ุทูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุซูŽูˆูŽุงุจูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉู ุขู„ุงูู ู…ูŽู„ูŽูƒู ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุตูŽุงู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุญูŽุฑู‘ูŽู…ู ุฃูุนู’ุทููŠูŽ ุซูŽูˆูŽุงุจูŽ ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉู ุขู„ูŽุงูู ุญูŽุงุฌู‘ู ูˆูŽู…ูุนู’ุชูŽู…ูุฑู ูˆูŽุนูŽุดู’ุฑูŽุฉู ุขู„ุงูู ุดูŽู‡ููŠุฏู ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุณูŽุญูŽ ูŠูŽุฏูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุฃู’ุณู ูŠูŽุชููŠู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆุฑูŽุงุกูŽ ุฑูŽููŽุนูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ู„ูŽู‡ู ุจููƒูู„ู‘ู ุดูŽุนู’ุฑูŽุฉู ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุฉู‹ โ€œBarangsiapa berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharran, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhadaโ€™. Dan baragsiapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnyaโ€œ. Sanad hadits ini memang dlaโ€™if (lemah), tapi isinya (matan hadits) boleh diamalkan, karena berkaitan dengan kebajikan-kebajikan (fadlaโ€™ilul aโ€™mal). Mengenai maksud โ€œmengusap kepala anak yatimโ€ dalam hadits di atas, sebagian ulama mengartikannya sebagai makna hakiki (mengusap kepala dengan tangan), dan sebagian lainnya mengartikan sebagai makna kinayah (kiasan).

Ibnu Hajar al-Haitami menyatakan: ูˆุงู„ู…ุฑุงุฏ ู…ู† ุงู„ู…ุณุญ ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุซุงู†ูŠ ุญู‚ูŠู‚ุชู‡ ูƒู…ุง ุจูŠู†ู‡ ุขุฎุฑ ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆู‡ูˆ (ู…ู† ู…ุณุญ ุฑุฃุณ ูŠุชูŠู… ู„ู… ูŠู…ุณุญู‡ ุฅู„ุง ู„ู„ู‡ ูƒุงู† ู„ู‡ ุจูƒู„ ุดุนุฑุฉ ุชู…ุฑ ุนู„ูŠู‡ุง ูŠุฏู‡ ุนุดุฑ ุญุณู†ุงุช ูˆู…ู† ุฃุญุณู† ุฅู„ู‰ ูŠุชูŠู…ุฉ ุฃูˆ ูŠุชูŠู… ุนู†ุฏู‡ ูƒู†ุช ุฃู†ุง ูˆู‡ูˆ ููŠ ุงู„ุฌู†ุฉ ูƒู‡ุงุชูŠู† ูˆู‚ุฑู† ุจูŠู† ุฃุตุจุนูŠู‡) . ูˆุฎุต ุงู„ุฑุฃุณ ุจุฐู„ูƒ ู„ุฃู† ููŠ ุงู„ู…ุณุญ ุนู„ูŠู‡ ุชุนุธูŠู…ุง ู„ุตุงุญุจู‡ ูˆุดูู‚ุฉ ุนู„ูŠู‡ ูˆู…ุญุจุฉ ู„ู‡ ูˆุฌุจุฑุง ู„ุฎุงุทุฑู‡ุŒ ูˆู‡ุฐู‡ ูƒู„ู‡ุง ู…ุน ุงู„ูŠุชูŠู… ุชู‚ุชุถูŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุซูˆุจ ุงู„ุฌุฒูŠู„โ€ฆ. โ€œMaksud dari โ€œmengusapโ€ dalam hadits yang kedua adalah makna hakiki, sebagaimana diterangkan oleh hadits lain, yaitu โ€œBarangsiapa yang mengusap kepala anak yatim semata-mata karena Allah, niscaya Allah memberikan 10 kebaikan pada setiap helai rambut yang diusapnya. Dan barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim, perempuan atau laki-laki, niscaya aku (Nabi Muhammad) akan bersamanya seperti ini (dua jari tangan); lalu Nabi berisyarah dengan dua jarinyaโ€. Penyebutan kata raโ€™sun (kepala), karena mengusap kepala berarti menghargai, mengasihi, cinta kasih, dan mengayomi kebutuhannya. Jika semua itu dilakukan pada anak yatim, maka akan mendapatkan pahala yang sangat besarโ€ฆ.โ€ (al-Fatawa al-Haditsiyyah li-Ibni Hajar al-Haitami, 1/43) Sedangkan Syeikh Abu Thayyib menyatakan: ู‚ุงู„ ุงู„ุทูŠุจูŠ: ู…ุณุญ ุฑุฃุณ ุงู„ูŠุชูŠู… ูƒู†ุงูŠุฉ ุนู† ุงู„ุดูู‚ุฉ ูˆุงู„ุชู„ุทู ุฅู„ูŠู‡ุŒ ูˆู„ู…ุง ู„ู… ุชูƒู† ุงู„ูƒู†ุงูŠุฉ ู…ู†ุงููŠุฉ ู„ุฅุฑุงุฏุฉ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ ู„ุฅู…ูƒุงู† ุงู„ุฌู…ุน ุจูŠู†ู‡ู…ุง โ€œAbu Thayyib berkata: โ€œMengusap kepala anak yatim adalah sebuah kinayah tentang kasih sayang dan sikap lemah lembut (kepada anak yatim).

Makna kinayah ini tidak bertentangan dengan makna hakiki, karena keduanya bisa dipadukanโ€. (Mirqatul Mafatih, 8/3115) Kasih sayang kepada anak yatim, tentu saja bukan hanya diwujudkan dengan belaian rambut belaka, tapi juga mengurus anak yatim secara baik dan memberi santunan untuk sandang, pangan, papan, dan pendidikannya. Maka, pemberian santunan bukan hanya dilakukan pada tanggal 10 Muharram saja, tapi juga pada bulan-bulan lainnya. Tradisi Masyarakat dan Ulama Menyantuni anak yatim pada tanggal 10 Muharram (Asyura) merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak lama.

al-Hafizh Ibnu al-Jauzi (508-597 H/1114-1201 M), seorang ahli hadits Madzhab Hanbali, menjelaskan kebiasaan para ulama pada hari Asyura: ููŽูˆูŽุงุฆูุฏู ูููŠู’ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุงุดููˆู’ุฑูŽุงุกูŽ. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู’ู„ุฃููˆู’ู„ูŽู‰: ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุบู’ุณูู„ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽุงุดููˆู’ุฑูŽุงุกูŽุŒ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฐููƒูุฑูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูŠูŽุฎู’ุฑูู‚ู ูููŠู’ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุฒูŽู…ู’ุฒูŽู…ูŽ ุฅูู„ู‰ูŽ ุณูŽุงุฆูุฑู ุงู„ู’ู…ููŠูŽุงู‡ูุŒ ููŽู…ูŽู†ู ุงุบู’ุชูŽุณูŽู„ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุฆูุฐู ุฃูŽู…ูู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฑูŽุถู ูููŠู’ ุฌูŽู…ููŠู’ุนู ุงู„ุณู‘ูŽู†ูŽุฉูุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูุญูŽุฏููŠู’ุซูุŒ ุจูŽู„ู’ ูŠูุฑู’ูˆูŽู‰ ุนูŽู†ู’ ุนูŽู„ููŠู‘ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠู’ ุทูŽุงู„ูุจู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู. ุงู’ู„ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠูŽุฉู: ุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ุนูŽู„ู‰ูŽ ุงู„ู’ููู‚ูŽุฑูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงูƒููŠู’ู†ู. ุงู’ู„ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ุซู‘ูŽุงู„ูุซูŽุฉู: ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู…ู’ุณูŽุญูŽ ุฑูŽุฃู’ุณูŽ ุงู„ู’ูŠูŽุชููŠู’ู…ู. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ุฑู‘ูŽุงุจูุนูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ูŠูููŽุทู‘ูุฑูŽ ุตูŽุงุฆูู…ูŽุง. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ู’ุฎูŽุงู…ูุณูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุณู’ู‚ููŠูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุกูŽ. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ุณู‘ูŽุงุฏูุณูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฒููˆู’ุฑูŽ ุงู’ู„ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูŽ. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ุณู‘ูŽุงุจูุนูŽุฉู: ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุนููˆู’ุฏูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุฑููŠู’ุถูŽ. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ุซู‘ูŽุงู…ูู†ูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒู’ุฑูู…ูŽ ูˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽูŠูŽุจูุฑู‘ูŽู‡ูู…ูŽุง. ุงู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ุชู‘ูŽุงุณูุนูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒู’ุธูู…ูŽ ุบูŽูŠู’ุธูŽู‡ู. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ู’ุนูŽุงุดูุฑูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ูููˆูŽ ุนูŽู…ู‘ูŽู†ู’ ุธูŽู„ูŽู…ูŽู‡ู. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ู’ุญูŽุงุฏููŠูŽุฉูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽุฉูŽ: ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒู’ุซูุฑูŽ ูููŠู’ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุฏู‘ูุนูŽุงุกู ูˆูŽุงู’ู„ุงูุณู’ุชูุบู’ููŽุงุฑู. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠูŽุฉูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒู’ุซูุฑูŽ ูููŠู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‡ู. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ุซู‘ูŽุงู„ูุซูŽุฉูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูู…ููŠู’ุทูŽ ุงู’ู„ุฃูŽุฐูŽู‰ ุนูŽู†ู ุงู„ุทู‘ูŽุฑููŠู’ู‚ู. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ุฑู‘ูŽุงุจูุนูŽุฉูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽุฉูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุตูŽุงููุญูŽ ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูŽู‡ู ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู‚ููŠูŽู‡ูู…ู’. ุงูŽู„ู’ููŽุงุฆูุฏูŽุฉู ุงู„ู’ุฎูŽุงู…ูุณูŽุฉูŽ ุนูŽุดูŽุฑูŽุฉูŽ: ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒู’ุซูุฑูŽ ูููŠู’ู‡ู ู…ูู†ู’ ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉู ู‚ูู„ู’ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ู„ูู…ูŽุง ุฑููˆููŠูŽ ุนูŽู†ู’ ุนูŽู„ููŠู‘ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠู’ ุทูŽุงู„ูุจู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู: ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุฑูŽุฃูŽ ูููŠู’ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุงุดููˆู’ุฑูŽุงุกูŽ ุฃูŽู„ู’ููŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู ู‚ูู„ู’ ู‡ููˆูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ู†ูŽุธูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุธูŽุฑูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูุนูŽุฐู‘ูุจู’ู‡ู ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง Faidah-faidah hari Asyura : Mandi pada hari Asyura. Telah disebutkan bahwa Allah SWT membedah komunikasi air Zamzam dengan seluruh air pada malam Asyuraโ€™. Karena itu, siapa yang mandi pada hari tersebut, maka akan aman dari penyakit selama setahun.

Ini bukan hadits, akan tetapi diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. Bersedekah kepada fakir miskin. Menyantuni dan mengusap kepala anak yatim. Memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa. Memberi minuman kepada orang lain. Mengunjungi saudara seagama (silaturrahim). Menjenguk orang sakit. Memuliakan dan berbakti kepada kedua orang tua. Menahan amarah dan emosi. Memaafkan orang yang berbuat zalim. Memperbanyak ibadah seperti shalat, doa, dan istighfar.

Memperbanyak zikir kepada Allah. Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu di jalan. Berjabat tangan dengan orang yang dijumpai. Memperbanyak membaca surat al-Ikhlash, sampai seribu kali. Karena ada atsar yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a.: Barangsiapa membaca surah al-Ikhlash 1000 kali pada hari Asyura, maka Allah akan โ€œmemandangnyaโ€. Barangsiapa โ€œdipandangโ€ oleh Allah, maka Dia tidak akan mengazab selamanya. (Al-Hafizh Ibnu al-Jauzi al-Hanbali, al-Majalis, hal. 73-74, Dar al-Kutub al-โ€˜Ilmiyyah(. Kesimpulannya, tradisi menyantuni anak yatim pada hari Asyura memang sudah ada sejak lama, dan dilakukan oleh masyarakat umum maupun para ulama. Dari tradisi tersebut lalu muncul istilah Idul Yatama (hari raya anak yatim).

Namun, yang dimaksud Idul Yatama bukanlah hari raya seperti Idul Fitri atau Idul Adha, melainkan momen untuk membahagiakan hati anak yatim. Juga waktu yang tepat untuk mengingatkan orang yang selama ini acuh tak acuh, agar terbuka mata hatinya sehingga mau memperhatikan nasib anak-anak yatim. Momen 10 Muharram tidak pula dimaksudkan bahwa santunan kepada anak yatim hanya berlangsung pada hari tersebut, karena menyantuni anak yatim bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Wallahu Aโ€™lam.